Melambat dan Melaju

Sabtu dinihari menjelang subuh, di tepi sebuah telaga dengan debur ombak kecil dan deru angin yang membuat terlena siapapun yang menikmatinya, tersaji dua cangkir kopi yang masih mengebulkan asapnya. Yang satu masih utuh dan satunya lagi sudah disesap hampir setengah. Aku sengaja mengajaknya terjaga untuk menunggu seruan pagi, seperti yang sering kami lakukan sebelumnya disini, di tepian telaga beratapkan langit malam ini. Apalagi yang bisa dilakukan dua jiwa yang sedang berada di depan cangkir kopi selain mengobrol. Tiba-tiba aku bertanya tentangnya yang biasanya tak pernah kulakukan. Mungkin karena aku terlalu sudah jenuh membicarakan tentang hidupku. Continue reading

Surat Untukku

Nak, kau tahu, hidup tidak hanya sesederhana melanjutkan sekolah, meniti jenjang akademis, karir dan apa yang kita imajinasikan sebagai kesuksesan. Tentu orang memuji kita, tapi apa kau tahu dibalik setiap pujian sering ada keirian? Dibalik kekaguman orang pada kita tak jarang terletak kebencian?

Kenanglah simbah yang kau papah ke kuburannya, di tanah nan becek sampai sarungmu berlumpur, ingatlah Bi Puro, Mang Aan di belakang rumah, Bu Liha, kemana Ahmad Rofi’i teman SDmu? Ibu Zaki yang dikubur di Sono Praloyo. Segala kemanusiaan mesti siap menyambut sakit, dan tentu mati. Continue reading