Melambat dan Melaju

Sabtu dinihari menjelang subuh, di tepi sebuah telaga dengan debur ombak kecil dan deru angin yang membuat terlena siapapun yang menikmatinya, tersaji dua cangkir kopi yang masih mengebulkan asapnya. Yang satu masih utuh dan satunya lagi sudah disesap hampir setengah. Aku sengaja mengajaknya terjaga untuk menunggu seruan pagi, seperti yang sering kami lakukan sebelumnya disini, di tepian telaga beratapkan langit malam ini. Apalagi yang bisa dilakukan dua jiwa yang sedang berada di depan cangkir kopi selain mengobrol. Tiba-tiba aku bertanya tentangnya yang biasanya tak pernah kulakukan. Mungkin karena aku terlalu sudah jenuh membicarakan tentang hidupku. Continue reading

Advertisements

Semeru yang Indah

Ranu Kumbolo
Ranu Kumbolo

P1020672

Kenapa kau kembali lagi kesini?”, hardiknya ketika aku baru saja melewati gerbang di dekat perkebunan itu.

Aku bosan dengan rutinitas sehari-hari, sibuk mengejar kesenangan dunia, aku bosan dengan hiruk pikuk kota, jadi aku kesini untuk menjernihkan kembali hati dan pikiranku”, jawabku.

Bukankah disini kau mengejar kesenangan dunia juga? Dulu ketika kau pertama kesini, sudah kujelaskan bahwa apa yang kau cari tidak ada disini, sia-sia semua perjuangan dan pengorbananmu, yang kau dapat hanya lelah dan haus. Lagipula, disini sekarang tak ada bedanya dengan di kota, ramai dengan orang-orang yang haus akan kepuasan diri.Continue reading

Surat Untukku

Nak, kau tahu, hidup tidak hanya sesederhana melanjutkan sekolah, meniti jenjang akademis, karir dan apa yang kita imajinasikan sebagai kesuksesan. Tentu orang memuji kita, tapi apa kau tahu dibalik setiap pujian sering ada keirian? Dibalik kekaguman orang pada kita tak jarang terletak kebencian?

Kenanglah simbah yang kau papah ke kuburannya, di tanah nan becek sampai sarungmu berlumpur, ingatlah Bi Puro, Mang Aan di belakang rumah, Bu Liha, kemana Ahmad Rofi’i teman SDmu? Ibu Zaki yang dikubur di Sono Praloyo. Segala kemanusiaan mesti siap menyambut sakit, dan tentu mati. Continue reading

Lagu Paling Sunyi

Kematian bisa karena apa saja. Kau boleh sebut apapun yang ada di dunia. Bahkan hal-hal yang tak engkau pikirkan boleh jadi akan membunuhmu. Misalnya: lagu. Jangan kaget. Di masa lalu engkau bisa mati hanya karena engkau menyanyikan sebuah lagu. Aku tidak sedang bercanda. Semisal engkau bisa melipat waktu, cobalah kau kembali ke masa lalu. Tentukan sekitar empat puluh lima tahunan ke belakang. Lalu, sesudah kau berada di masa itu,  ke mana saja berjalan, nyanyikanlah lagu genjer-genjer, niscaya nasibmu akan seperti lirik lagu itu: “nong kedokan pating keleler.” Atau lebih buruk lagi, “ma’e tole teko-teko mbubuti genjer.” Continue reading