Melambat dan Melaju

Sabtu dinihari menjelang subuh, di tepi sebuah telaga dengan debur ombak kecil dan deru angin yang membuat terlena siapapun yang menikmatinya, tersaji dua cangkir kopi yang masih mengebulkan asapnya. Yang satu masih utuh dan satunya lagi sudah disesap hampir setengah. Aku sengaja mengajaknya terjaga untuk menunggu seruan pagi, seperti yang sering kami lakukan sebelumnya disini, di tepian telaga beratapkan langit malam ini. Apalagi yang bisa dilakukan dua jiwa yang sedang berada di depan cangkir kopi selain mengobrol. Tiba-tiba aku bertanya tentangnya yang biasanya tak pernah kulakukan. Mungkin karena aku terlalu sudah jenuh membicarakan tentang hidupku.

“Bagaimana hubungan kamu dengan dia?” ujarku membuka pembicaraan.

“Baik-baik saja,” jawabnya sambil terus memainkan sendok, mengaduk-aduk entah apa dalam cangkir kopi yang sebentar lagi mungkin akan terasa dingin. Dan sesekali menyesap pinggirnya.

“Setelah peristiwa itu?” tanyaku dengan suara yang agak meninggi. Peristiwa itu terjadi beberapa bulan lalu, dia ceritakan semuanya padaku.

“Iya,” jawabnya pendek. Seperti tak ingin membahas persoalan ini lebih panjang atau karena ia ingin lekas-lekas menghabiskan kopi dari cangkirnya sebelum benar-benar menjadi dingin.

Kami diam. Sesekali aku melihat matanya menerawang jauh entah kemana. Aku tak pernah benar-benar tahu. Yang aku tahu pasti, setelah peristiwa itu, ia sempat merasa dihempaskan hidup pada titik terendah. Betapa pencapaian mengenai cinta, yang ia kira akan sanggup diraihnya bersama perempuan itu, hilang dalam sekejap mata. Tak bersisa apa-apa.

Lantas ia memutuskan bertahan. Atau lebih tepatnya mempertahankan. Mempertahankan apa yang ia yakini akan terjadi. Tak ada yang salah. Semua yang telah terjadi tentu masih bisa diusahakan kembali.

Dia bahagia, katanya. Sedikit cemas karena takut jika ini hanya sementara. Mungkin ia lupa, jika kebersamaan, seperti apapun wujudnya, akan memiliki masa “kadaluwarsa”. Tak ada yang abadi. Tak ada yang benar-benar abadi karena hidup pada dasarnya memang selalu bergerak dan mengubah diri di beberapa titik. Lajunya kadang tak bisa diperkirakan. Tiba-tiba saja kita sudah berada pada akhir perjalanan. Tak ada kata tidak siap. Semua yang mesti berakhir, memang sudah tak bisa lagi diapa-apakan.

“Aku sudah ikhlas melepaskannya,” tiba-tiba saja ia membuka percakapan.

“Melepaskan gimana?”

“Aku sampai di titik itu. Seperti yang selalu kamu bilang, setiap orang pasti akan tahu titik dimana ia harus melaju, melambat, atau justru berhenti sama sekali,” jawabnya ringan.

Dulu ia pernah bertanya kepadakku mengenai apa yang harus dilakukannya ketika peristiwa itu terjadi. Bahwa pada dasarnya setiap orang memang mempunya titik tersebut. Titik dimana ia tahu kapan mesti melaju, melambat, atau justru berhenti sama sekali. Titik tersebut hanya akan muncul setelah keyakinan tertanam kuat-kuat. Keyakinan, yang setelahnya tak akan pernah disesali atau malah dirutuki.

Katanya ia telah menemukan titik itu. Titik dimana ia merasa harus berhenti sama sekali. Bahwa ia sudah berusaha, aku tahu itu. Bahwa ia sudah mencoba berbagai cara, aku mengerti itu. Bahwa pada akhirnya ia memutuskan berhenti, melepaskan semua, dan berkata dirinya baik-baik saja, entah bagaimana aku melihatnya menjadi ia yang lebih ringan dan menyenangkan. Tanpa ketakutan. Tanpa kekhawatiran akan kehilangan. Mungkin ini yang ia sebut dengan melepaskan. Melepaskan ketakutan-ketakutan dalam dirinya sendiri.

“Aku melepaskan dia, meski aku sangat mencintainya,” ujarnya di akhir cerita.

Aku tersenyum, lalu meralat kalimatnya.

“Kamu melepaskan dia, karena kamu sangat mencintainya. Dan itu luar biasa.”

“Kalimatmu aneh,” katanya. Dan aku melihat ia tertawa. Untuk pertama kali setelah sekian lama. Begitu bahagia.

“Mungkin aku harus mengikuti caramu dalam mencintai. Mencintai dalam diam!!!” lanjutnya.

Akupun ikut tertawa, tapi bukan ingin menertawakannya. Tapi memang yang aku nantikan telah datang. Fajar menyingsing di timur, apa yang dijanjikan Tuhan telah tiba. Pekatnya malam perlahan memudar. Kami teringat lirik lagu yang entah siapa penyanyinya, “It’s always darkest before the dawn”.

 

“Karena sebuah harapan, jika benar ia bisa menyentuh langit sedemikian tinggi. Terwujud, lantas menjadi kenyataan. Maka ia pun sangat mungkin untuk terhempas ke permukaan. Lalu hancur dan berserakan.

Mungkin itulah gunanya untuk selalu melambungkan angan tinggi-tinggi dengan menyisakan hati yang cukup agar tetap berpijak pada kenyataan. Agar kita selalu mempunyai tempat ketika sudah terbang cukup tinggi namun mesti terhempas ke permukaan.

Cinta hanya menunda kehilangan. Tapi kehilangan tak akan pernah terjadi tanpa keinginan untuk mendapatkan. Jadi, mengapa kita tidak merasa cukup dengan jatuh cinta saja tanpa memaksa diri bangkit, mengejar dan menaklukkan, untuk kemudian tahu bahwa dia tak akan pernah seutuhnya didapatkan, tak kepadanya semua bisa tuntas terucapkan.

Biarlah kulakukan diam-diam seperti ini, sehingga ketika dia tak memantulkan arah rasa yang sama, aku tak perlu terluka”, begitu katanya menutup malam itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s